Hebat Karena Pelatih

Blog

Franz Bekebauer, Roberto Dunga, dan Didier Deschamps adalah figur yang luar biasa. Sebab, mereka mampu mengabdikan trofi juara dunia sepak bola untuk negaranya masing-masing dalam momen serta peran berbeda. Pada masanya, mereka pernah menjadi pemain bersama rekanrekannya memenangkan juara dunia sepak bola.

Pada masa berbeda, mereka juga pernah menjadi pelatih yang membawa tim nasional negaranya menjadi juara dunia. Tidak ada pemain bola hebat tanpa bimbingan seorang pelatih (coach) yang andal. Sebab, di tangan pelatih, seorang pemain mampu mengeluarkan bakat dan keahlian di bidangnya seoptimal mungkin.

Seorang coach harus mampu melihat segala potensi (talenta) yang dimiliki pemainnya, mengajari, serta mengarahkan mereka bekerja seoptimal mungkin agar mencapai tujuan yang diharapkan. Sehebat-hebatnya seorang pemain bola, dia tidak mampu melihat dirinya sendiri ketika sedang membawa bola sehingga sering kali aktivitas yang dilakukan belum optimal untuk mencapai tujuan.

baca juga : http://eurotexpatodia.com/kelebihan-dan-kekurangan-genset-diesel/

Maka, dalam hal ini, diperlukan coach untuk mengarahkan agar dapat bekerja dan memanfaatkan peluang yang lebih baik lagi. Begitu juga seorang coach dalam suatu perusahaan. Ia harus mampu berperan mengarahkan bawahannya agar bekerja lebih optimal juga memanfaatkan sumberdaya yang ada sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.

Dalam suatu perusahaan, seorang pemimpin berperan sebagai seorang pelatih. Ia harus dapat melatih anak buahnya agar dapat mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki untuk bertindak seoptimal mungkin hingga tercapainya tujuan organisasi. Menurut Peterson dan Hicks (2012), coaching adalah membekali orang dengan peralatan, pengetahuan, dan kesempatan yang mereka perlukan untuk mengembangkan dirinya serta menjadi lebih efektif.

Selain itu, menurut Bresser dan Wilson dalam Kaswan, coaching merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya, membantu seseoran belajar daripada mengajarinya. Sedangkan, menurut Stones (2007), coaching adalah proses individu mendapat keterampilan, kemampuan, juga pengetahuan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan diri secara profesional dan menjadi lebih efektif dalam pekerjaan mereka.

Selanjutnya, menurut Whitmore (2008), coaching adalah pembinaan yang membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerja mereka sendiri, yang membantu mereka belajar daripada mengajar mereka. Hal ini diperkuat Jaques dan Clement (1994). Coaching adalah percakapan terstruktur yang menggunakan informasi tentang kinerja yang nyata antara seseorang atasan dan seorang individu (atau tim), yang menghasilkan kinerja lebih tinggi.

Siapakah coach paling baik bagi suatu perusahaan? Hal ini sama dengan kesebelasan. Seorang coach dapat diambil dari luar kesebelasan tersebut. Namun, bagi suatu perusahaan, seorang coach akan lebih baik jika diambil dari dalam organisasi itu, bukan berasal dari luar organisasi. Sebab, seorang coach yang diambil dari dalam organisasi diharapkan lebih mengetahui sistem dan budaya organisasi yang telah ada serta mengetahui potensi-potensi yang dimiliki sumber daya internal organisasi tersebut.

Aktivitas coaching memiliki berbagai manfaat bagi organisasi maupun individu di dalamnya. Bagi organisasi, akan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan andal di bidangnya masing-masing. Adapun, bagi individu, akan mengetahui potensi yang ia miliki, mengetahui tujuan, target yang harus dilakukan, juga mampu mengoptimalkan potensi yang ada untuk mencapai tujuan itu.

Seorang pemimpin, yang juga seorang coach, dapat melakukan beberapa hal dalam memberikan coaching kepada anak buahnya, seperti di bawah ini:

  1. Memberi feedback positif kepada anak buahnya atas potensi yang mereka miliki dan keahlian yang dapat mereka andalkan.
  2. Memberi feedback negatif kepada anak buahnya jika masih ada beberapa hal kekurangan yang dimiliki anak buahnya.
  3. Memastikan anak buahnya bisa memahami keunggulan dan kekurangan yang mereka miliki.
  4. Menjelaskan harapan dan tujuan organisasi kepada anak buahnya secara jelas.
  5. Mendorong pemanfaatan potensi dan sumber daya yang dalam dalam pencapaian kesuksesan organisasi.
  6. Mengevaluasi kinerja dan pencapaian tujuan yang telah dicapai anak buahnya. Jadilah seorang pemimpin sekaligus coach yang baik dalam organisasi sehingga mampu membawa kesuksesan.